Starless Night
Thursday, May 24th, 2007Dear Sky,
I cannot seeth any radiant star
on thy face
tonight
Dear Sky,
I cannot seeth any radiant star
on thy face
tonight
belakangan saya makin merasa loser saja
gambar konstruk hancur
2d dibilang tidak memperbaiki, UAS belum dibikin
gamtuk ga bagus2 amat
3d entah gimana nasibnya
bahasa inggris belum tersentuh
mau jadi apa saya??
urusan pameran juga ngga kelar2
waktu saya buka sketchbook gambar ga ada yang bener
trus tadi ada kejadian memalukan yang disaksikan Saith dan katanya di scene itu saya ngomong dengan cukup keras sehingga kayaknya kedengeran banyak orang
sampah pisan!!!
AINK LOSER!!!
Aku ingin
merentangkan sayapku
menunggang angin
yang menghembus bulu-bulu sayapku
dan mengepakkan sayap anginku
untuk mengejarmu
hingga ke ujung senja
hari rabu-sabtu pagi tadi saya berada di kampung halaman, Muntilan (yang katanya temen saya Endy adalah kota welcome-goodbye karena begitu masuk udah langsung keluar lagi). sebenarnya harusnya saya cuma di muntilan hari rabu n kamisnya balik, tapi berhubung jumatnya libur saya meneruskan program penggizian hingga tadi pagi.
rabu pagi itu, ketika saya baru sampai di rumah, kira2 jam 5.30 (jam 5 dari stasiun tugu), saya ngobrol dengan Papa tercinta. tentang kehidupan sehari2, tentang perkembangan berita, tentang masa lalu, tentang masa depan.
tentang bagaimana kakak2 sepupu saya mendapat pencapaian besar akhir2 ini. para lulusan arsitek yang menginspirasi saya, terutama kakak sepupu saya yang lulusan Unpar itu, yang menginspirasi saya untuk kuliah di bandung.
tentang bagaimana masa depan saya, prodi yang akan saya ambil. bagaimana kedua orangtua saya juga ikut cemas dengan prodi saya hingga mereka sempat konsultasi ke konsultan duta wacana. tentang bagaimana saya harus berjuang, apapun hasilnya. apalagi tpb hampir berakhir, inilah waktunya untuk all-out
tentang pasangan hidup dan kegagalan cinta, di mana ternyata kedua orangtua saya juga pernah mengalaminya. Papa saya dengan bijak menasehati saya
tentang bagaimana Papa saya melihat profile frenster saya (lewat komputer kakak sepupu saya waktu mereka di jakarta) yang memalukan lengkap dengan comment dan testi yang super ngga penting penuh pisuhan dari manusia2 gila
kamis malam, ketika saya sedang bikin tugas perbaikan nirmana 2d serangga, Papa bercerita tentang masa sma nya dulu. ketika ia juga menerima banyak tugas menggambar dari guru, di mana masa itu gaji masih dibayar kontan, belum banyak sepeda motor, malioboro tidak begitu ramai, dan ejaan masih Suwandi (halah, ra penting je). ceritanya, Papa masih kelas 2 SMA, terus ia sedang bikin tugas menggambar pake trek pen, alat gambar teknik yang super keren dan oldskool pisan. saat itu, ia melakukan kesalahan pada gambarnya, padahal tinggal sedikit lagi gambar itu selesai. kesal, dicoretnyalah gambar itu. lalu, Engkong saya yang bijak duduk dan berkata, "Harusnya kamu jangan seperti itu, kesalahan seperti itu kan masih bisa diperbaiki." terharu, menangislah Papa saya. cerita itu menyadarkan saya betapa miripnya saya dengan Papa saya, dalam hal emosi khususnya. cerita ini menggerakkan hati saya untuk terus berjuang.
trek pen yang disimpannya sampai sekarang itu pun memiliki cerita tersendiri. dulu, alat2 seperti itu mahal harganya. namun, Engkong saya tetap membelikannya untuk Papa saya karena itu barang penting, sampai2 Papa saya merasa tidak enak. begitu disayanginya trek pen itu hingga selalu dibersihkan setelah digunakan. bahkan kemarinsaya sempat melihat trek pen yang masih bagus itu (hanya sedikit berkarat, padahal sudah kira2 30 tahunan). juga bagaimana ia memakai sepatu butut selama 3 tahun di SMA karena tak mau memberatkan Engkong, bagaimana ia berhenti kuliah untuk membantu Engkong. sungguh menyadarkan saya bahwa sekarang saya sudah dilengkapi banyak kemudahan, karenanya, saya harus berjuang keras.
xie xie, Papa. untuk segalanya
The Evening hath fallen
The Dusk hath lit its fiery light
The Twilight hath burned my chest
for The Morning hath gone
for The Dawn hath taken its shine from me
for the Daylight seems to be granted to another Lover
Evenstar, Undomiel
Am I thy true lover?
Or I just seeketh for an escape?
Or I just looketh for another shelter?
Shall the time be a fair judge
Is our destiny bond each other
Or thou art just another mirage?
Aiya Undomiel!! Aure Entuluva!!
my friends said she’s not good enough for me. we don’t suit each other. ‘kay, maybe they think too high of me^^
my friends said Tinuviel is better for me, but now she’s close to another man and I’ve only got thinnest chance to get her. besides, she’s too high and noble. maybe i’m not worthy for her
my friend, L said that she’s cocky. she likes to show her gold off. wow. it’s harsh, L ^^
my friend, N said that she’s got different characteristic compared to me. i’m fatherly and she’s…. well, unexplained. that’s N said. i think N meant playful or sort of that
my friend, T said that someday i’ll get Tinuviel. heh. only GOD knows
but my heart learns to love her.
is this right?
do i really love her??
am i only interested to her beauty??
or it’s just an escape for i couldn’t get Tinuviel??
love is complicated as always…..
Undomiel, Tinuviel, both of you’re getting through my mind and filling it that it’s gonna explode
And life goes on
he’s getting closer to her
I can only stand still
like such a loser
like such a hypocrite
I don’t hate him
Just pain
and fear
I feel
The pain that they get together everyday right in front of me
The fear that they will become as one
The fear that I’ll live my life alone forever
Without any soul
Without any flower
Without any wind
Without any star
Without any dew
Without any light
Can I stand this storm of life??
Let the Starclimber prove his worth!!!