Archive for February, 2008

Blackout

Tuesday, February 26th, 2008

Dear Diary,

hari ini hampir saja aku mati

The Beast

Wednesday, February 20th, 2008

æne uppan ever tima
þider wæs ever leodfruma
egeslic wæs his modstaðol

swa ever awiergan
wæs on hine

se neat
hwelc unfæger bancofa

swa se neat anbidian
he besmiðian hineself
abidan ever fæge mægþ
þe sceal  berstan se awiergan

ond þær se neat
standan anum
in þeostru
he standan

One Year of Confession

Tuesday, February 12th, 2008

Hmmmm, tak terasa sudah setahun saya mengaku suka pada seseorang. Post ini (mungkin, kurang lebih, atau sedikitnya) didedikasikan untuk orang itu. The girl who once made my heart flutter.

Dia adalah seorang gadis yang biasa saja kalau dilihat sekilas secara fisik. Namun inner beautynya sungguh memukau. Kebaikan hatinya, kelembutan sikapnya, intelegensinya, sungguh karakter yang langka dan sangat menarik. Inner beautynya tak bisa disembunyikan, hingga meluap keluar dan membentuk aura yang sangat putih bersih dan menyenangkan (Mulai berlebihan ki, haha). Mungkin dia adalah gadis yang paling hebat yang pernah saya temui hingga sekarang.  Meskipun kadang-kadang lemot (haha) dia adalah seseorang yang penuh perhatian. Belum pernah sekalipun saya lihat dia menunjukkan emosi yang negatif. Sungguh gadis yang luar biasa. Meskipun sekarang saya sudah tidak menyukai dia sebagai pujaan hati namun saya masih merasa sangat respek pada dia, seorang gadis yang benar-benar saya kagumi.

Saya memberinya nama Luthien Tinuviel. Sebuah nama rahasia yang hanya diketahui saya dan sahabat-sahabat saya. Nama yang diambil dari karakter di Silmarillion karya J.R.R. Tolkien. Luthien Tinuviel, seorang elf dari negeri Doriath. Yang tercantik di antara anak-anak Illuvatar, yang lahir bersama mekarnya bunga niphredil. Ia menyimbolkan burung nightingale. Mungkin memang berlebihan, tetapi saat itu (dan mungkin hingga kini) hanya Luthien lah nama yang saya anggap paling cocok untuknya. Simbol kecantikan sempurna, kecantikan sesungguhnya, inner beauty. Sosok yang menjadi inspirasi saya. Morning star, A Luthien Tinuviel!!!

Kembali ke ego. Hari itu, jam 11 malam 12 Februari 2007, saya berhasil menyelesaikan gambar yang didedikasikan untuk dia. Dengan media tinta cina di atas kertas concorde dan alas duplex serta modal foto friendster saya berusaha melukis dia dengan sepenuh hati. Hasilnya (meskipun agak berantakan) memang tak buruk, dan yang paling penting ada kepingan jiwa saya di situ. Esoknya, dengan hati yang gelisah, saya menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya. Saya berkomitmen apapun yang terjadi saya harus mengungkapkannya di hari itu!! Dari pagi hingga siang di ruang TPB saya penuh rasa gelisah. Saya memutuskan akan mengungkapkannya seusai kelas bahasa Inggris (kebetulan saya sekelas dengan dia.) Hari itu, berkat dukungan dia, dia, dan  dia, saya berhasil memiliki semangat dan keberanian.

Seusai kelas bahasa Inggris, ada banyak halangan (hujan, ada pengganggu (baca:teman), dan lain-lain) hingga akhirnya saya bisa bersama dia di depan gerbang ITB di jalan Ganesha. Saat itu 13 Februari, sekitar pukul 15.30. Ia akan segera dijemput dan masih ada dua orang lain yang ada bersama kami. Ketika mobil penjemputnya datang, saya sejenak merasa ragu. Namun saya segera mengutarakan maksud saya dan memberikan gambar itu. Saya mengatakan perasaan saya, bahwa mungkin ia sudah tahu perasaan saya selama ini, dan saya mengakui perasaan saya. Saya juga meminta agar apapun jawabnya nanti, ia takkan berubah. Ekspresinya saat itu sungguh tak terlupakan. Agak netral, seakan ia sudah tahu, tetapi ada juga sedikit rasa terkejut dan senyum kecil (bila ingatan saya belum tumpul). Lalu setelah mengiyakan keinginan saya agar tak berubah apapun perasaannya, ia pulang. Saya pulang dengan hati yang tak karuan, namun lega di satu sisi.

wew, setelah dilihat-lihat ternyata ego saya memang lebih besar daripada dedikasi kepadanya. Hahaha, forgive me Luthien.

to be continued….