MTV = Hiphop TV dan hal-hal lain
Belakangan ini saya makin malas nonton TV. Mau TV lokal, adanya juga sinetron sama mamamia dan kroni-kroninya. Tayangan-tayangan yang komersial dan sekedar kejar tayang dan rating yang sistem rating sendiri sangat perlu dipertanyakan kevalidannya. TV lokal yang ‘bener’ tinggal Trans TV, Trans 7, dan Metro TV. Mau nonton TV luar, Animal Planet, Discovery Channel, sama Animax ga ketangkep. Hallmark, Star Movies? Jangan tanya. Sama saja nasibnya dengan Animal Planet. Yang tersisa tinggal MTV dan V Channel yang sekarang menjadi channel-channel khusus hiphop. Begitu saya mengganti channel ke dua stasiun ini, yang tampak adalah para hiphopper dengan bling-bling ditemani pantat-pantat yang melenggok. Terdengar pula suara jukebox yang sudah sangat pasaran sekarang ini.
Bukannya saya benci hiphop, apalagi rasis. Tidak, saya sangat respek pada negroid seperti halnya saya respek pada kaukasoid, mongoloid, dan semua ras lain. Yang menjadi masalah adalah ketika (hampir) semua lagu di dua stasiun TV musik adalah hiphop. Ke mana perginya rock? Classic? Bahkan Metal? Ugh, makin malas saja saya nonton TV. Ditambah lagi dalam hiphop sendiri kurang ada variasi musik dan lirik. Semuanya memakai gaya, lirik, koreografi, warna musik yang mirip-mirip. Saya hampir sulit membedakan artis satu dengan lainnya (ini mah mungkin sayanya saja yang kurang sensitif ^^;).
Omong-omong soal pasaran dan mainstream, saya jadi teringat pada desain yang mainstream. Yup, vektor. Sekarang hampir semua desainer (grafis khususnya) pakai vektor. Tracing foto dengan sulur2 art nouveau gadungan. Bah. Banyak sekali desain macam itu. Habis idekah desainer grafis Indonesia? Seperti halnya hiphop, vector art, dan sinetron, sesuatu yang mainstream dan terlalu sering diekspos menjadi garing dan menjenuhkan. Sekali lagi mainstream tak masalah, namun ketika ia mendominasi hampir semuanya, jenuhlah jadinya.
Yang namanya pasar semakin menarik bila dagangannya variatif (Kitab Rinaldo 33:4 XD). Mau bukti? Bayangkan kita ke supermarket ato pasar tradisional dengan barang dagangan terong semua tanpa ada dagangan lain. Malas juga kan? Kita jadi seperti kekurangan pilihan. Lihat saja pasar (baik tradisional maupun supermarket) saat ini. Betapa menariknya warna-warni sayur-sayuran dan buah-buahan mangga pepaya pisang jambu yang dibawa pamanku dari desa dst XD……….Garing ah
Solusinya? Para insan desain, broadcasting, perfilman harus berani membuat produk (entah desain, tayangan, film) yang menjadi trendsetter, bukan sekedar mengikuti dan menyuapi klien dan audience. Idealisme!! Para insan desain, broadcasting, dan perfilman harus punya idealisme!Think out of box!!! Ide-ide liar dan kreatif harus dibidani (dan diseleksi tentunya). Harus berani keluar dari zona nyaman dan mengeksplor berbagai media dan kemungkinan baru. Kalau mau dilanjutkan pemikiran ini akan mengacu pada pembodohan bangsa, nilai edukasi, idealisme, dan lain-lain. Bentrokan antara kepulan asap dapur dan idealisme manusia.
Ahahha, makin ngaco dan sotoy saja blog ini. Ya sudahlah. Mari kita bikin tu-gas la-gi T_T.
April 3rd, 2008 at 11:31 pm
I-d-e-a-l-i-s-m-e! Betul,pak. Sayangnya banyak orang yang menggadaikan idealismenya demi mendapatkan kekayaan (bedakan antara sesuap nasi dengan kekayaan, kekayaan itu semilyar suap nasi). Tidak banyak lagi org2 yg rela mati demi mempertahankan keyakinannya. Kalaupun ada, mereka akan dipojokkan oleh seisi dunia, entah itu disebut ekstrimis, fanatisme, dlsb. Sebab org2 berpikir dengan perut (bukan dengan otak), perutnya kosong ya nggak bisa mikir. -_-”
Setuju sekali dengan style2 vector yang semakin membosankan. Dimana-mana, dimana-mana. Kalo cuma ngikut2in aja kan semua orang jg bisa (makanya sy ikut2an ngetrace foto walo bukan anak DKV, sebab ya cuma gitu aja), harus lebih inovatip lagi kali ya?
Selamat bertugas.
April 3rd, 2008 at 11:32 pm
oh ya, udah saya link.
April 4th, 2008 at 12:05 pm
Ahahaha, mungkin dalam hal ini kita cocok ya Pak. Yang saya khawatirkan apakah saya dapat mempertahankan idealisme saya sementara tetap mengepulkan asap dapur keluarga saya kelak?? Mempertahankan idealisme sampai mati itu sulit. Apalagi bila ada keluarga yang jadi tanggungan Anda. Hahahaha
ya sudahlah
sukses!!!
October 28th, 2008 at 10:16 pm
Interesting to know.