Setahun Wisuda 2

March 3rd, 2008 by reidge

ican
kobra
jamban
lele
pecel lele
falkon
india
nejaaaaaaa
bollywood
pinball
pinbollywood
aming
singlet string
bindi
sari
kuch kuch hota hai
kabhi kushi kabhi gam
sorban
tamansari, antapani, sarijadi, setiabudi
tatib
wisudawan
presentasi
storyboard
ruang seminar
dede
hendra
monique
ario
rio
souvenir
keamanan
katrol
perform
properti
perijinan
danus
kostum
musik
velg bersinar
konfeti
cat bibit
petasan
bonggal mancing
perkusi tong dan seng lagi
jawa tewas
ketemu india beneran di cc

masih ingatkah kalian??????

Wishlist

March 1st, 2008 by reidge

Wishlist saat ini:
1. Copic berbagai warna
2. Soft pastel 24 warna derwent
3. Gouache 18 warna reeves saja
4. Acryllic 18 warna reeves saja
5. Watercolor 18 warna reeves saja
6. Canson tak terbatas…. heu
7. Buku Children of Hurin
8. Hiten, Biten, Maten, Amano’s World, sama Amano’s Complete Printnya Yoshitaka Amano
9. Buku Psychedelic Art
10. Jaket Navy Blue, gila setengah mati carinya
11. Studi budaya n hunting foto di Bali
12. Hunting foto di Tamansari dan Kraton Jogja
13. IP di atas 3,2 saja dulu
14. Tobaattt
15. Mastering Potosop, Illustrator, Corel, Freehand

Impian masa depan:
1. Punya studio pribadi di Jakarta, Jogja, Bandung, London, Zurich, Tokyo, Kyoto, Paris, Amsterdam, Venesia, Hongkong
2. Travelling keliling dunia dengan sketchbook
3. Wisata kuliner Cina Jepang Eropa
4. Kerja bareng Yoshitaka Amano
5. Napak tilas daratan Cina
6. Bikin performance art seedan Cirque du Soleil
7. Membangkitkan kembali daun lontar
8. Desainer grafis merangkap seniman printmaker. heu
9. Punya perusahaan cetak sendiri, bisa cetak buku, bisa printmaking, woodblock, etching, litograph, silkscreen, dst
10. Langganan majalah Graphis (hahaha)
11. Membuat Graphic Novel, banyak tulisan dan gambarnya sedikit tapi edan
12. Illustrator no. 1 Indonesia dulu
13. Bikin art film yang nampol
14. Bikin sekolah/komunitas seni-desain yang berkualitas
15. Pameran pribadi/bareng anak2 SR ‘06 keliling dunia. edaaannnn
16. Bikin font pribadi
17. Punya rumah di Muntilan, Jogja, Bandung, Jakarta, Tokyo, London, Hongkong

Intinya: KERJAKAN TUGASMU DULU, NAK!

Blackout

February 26th, 2008 by reidge

Dear Diary,

hari ini hampir saja aku mati

The Beast

February 20th, 2008 by reidge

æne uppan ever tima
þider wæs ever leodfruma
egeslic wæs his modstaðol

swa ever awiergan
wæs on hine

se neat
hwelc unfæger bancofa

swa se neat anbidian
he besmiðian hineself
abidan ever fæge mægþ
þe sceal  berstan se awiergan

ond þær se neat
standan anum
in þeostru
he standan

One Year of Confession

February 12th, 2008 by reidge

Hmmmm, tak terasa sudah setahun saya mengaku suka pada seseorang. Post ini (mungkin, kurang lebih, atau sedikitnya) didedikasikan untuk orang itu. The girl who once made my heart flutter.

Dia adalah seorang gadis yang biasa saja kalau dilihat sekilas secara fisik. Namun inner beautynya sungguh memukau. Kebaikan hatinya, kelembutan sikapnya, intelegensinya, sungguh karakter yang langka dan sangat menarik. Inner beautynya tak bisa disembunyikan, hingga meluap keluar dan membentuk aura yang sangat putih bersih dan menyenangkan (Mulai berlebihan ki, haha). Mungkin dia adalah gadis yang paling hebat yang pernah saya temui hingga sekarang.  Meskipun kadang-kadang lemot (haha) dia adalah seseorang yang penuh perhatian. Belum pernah sekalipun saya lihat dia menunjukkan emosi yang negatif. Sungguh gadis yang luar biasa. Meskipun sekarang saya sudah tidak menyukai dia sebagai pujaan hati namun saya masih merasa sangat respek pada dia, seorang gadis yang benar-benar saya kagumi.

Saya memberinya nama Luthien Tinuviel. Sebuah nama rahasia yang hanya diketahui saya dan sahabat-sahabat saya. Nama yang diambil dari karakter di Silmarillion karya J.R.R. Tolkien. Luthien Tinuviel, seorang elf dari negeri Doriath. Yang tercantik di antara anak-anak Illuvatar, yang lahir bersama mekarnya bunga niphredil. Ia menyimbolkan burung nightingale. Mungkin memang berlebihan, tetapi saat itu (dan mungkin hingga kini) hanya Luthien lah nama yang saya anggap paling cocok untuknya. Simbol kecantikan sempurna, kecantikan sesungguhnya, inner beauty. Sosok yang menjadi inspirasi saya. Morning star, A Luthien Tinuviel!!!

Kembali ke ego. Hari itu, jam 11 malam 12 Februari 2007, saya berhasil menyelesaikan gambar yang didedikasikan untuk dia. Dengan media tinta cina di atas kertas concorde dan alas duplex serta modal foto friendster saya berusaha melukis dia dengan sepenuh hati. Hasilnya (meskipun agak berantakan) memang tak buruk, dan yang paling penting ada kepingan jiwa saya di situ. Esoknya, dengan hati yang gelisah, saya menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya. Saya berkomitmen apapun yang terjadi saya harus mengungkapkannya di hari itu!! Dari pagi hingga siang di ruang TPB saya penuh rasa gelisah. Saya memutuskan akan mengungkapkannya seusai kelas bahasa Inggris (kebetulan saya sekelas dengan dia.) Hari itu, berkat dukungan dia, dia, dan  dia, saya berhasil memiliki semangat dan keberanian.

Seusai kelas bahasa Inggris, ada banyak halangan (hujan, ada pengganggu (baca:teman), dan lain-lain) hingga akhirnya saya bisa bersama dia di depan gerbang ITB di jalan Ganesha. Saat itu 13 Februari, sekitar pukul 15.30. Ia akan segera dijemput dan masih ada dua orang lain yang ada bersama kami. Ketika mobil penjemputnya datang, saya sejenak merasa ragu. Namun saya segera mengutarakan maksud saya dan memberikan gambar itu. Saya mengatakan perasaan saya, bahwa mungkin ia sudah tahu perasaan saya selama ini, dan saya mengakui perasaan saya. Saya juga meminta agar apapun jawabnya nanti, ia takkan berubah. Ekspresinya saat itu sungguh tak terlupakan. Agak netral, seakan ia sudah tahu, tetapi ada juga sedikit rasa terkejut dan senyum kecil (bila ingatan saya belum tumpul). Lalu setelah mengiyakan keinginan saya agar tak berubah apapun perasaannya, ia pulang. Saya pulang dengan hati yang tak karuan, namun lega di satu sisi.

wew, setelah dilihat-lihat ternyata ego saya memang lebih besar daripada dedikasi kepadanya. Hahaha, forgive me Luthien.

to be continued….

Sastra Pinedati

January 28th, 2008 by reidge

Ya maraja-jaramaya

Ya marani-niramaya

Ya silapa-palasiya

Ya
midara-radamiya

Ya midosa-sadomiya

Ya dayuda-dayudaya

Ya
siyaca-cayasiya

Ya sihama-mahasihya

——————————

An old Javanese poet I found at Javanese Wikipedia. I found it verbally interesting, and just like this blog theme: Psychogibberish. In one side it seems so deep like a prayer or such but in other side it seems just like a gibberish or blabber of wordplay. Beautiful ancient heritage of Java.

Verbal Chaos: Experimental Wordplay

January 22nd, 2008 by reidge

Serpihan petaka di ujung lingga
Tak kunjung musnah jua
Bangkitlah sang ksatria tua
Meranggah langit penuh asa

Jati zirahnya
Kecambah hatinya

Sang ksatria tua

So then the old knight strides
Along the death he rides
Ev’ryday he brawls
Among the dead he crawls

Defending the redemption
From the days of perfection
He searched for purgatory
For mercy and amnesty

Nggoleki atmo sejati
Ingkang wonten ing Gusti

Memento mori

Film Indonesia: WADUK ANJIS

January 13th, 2008 by reidge

Bisa dibilang ini cuma uneg-uneg. Bisa dibilang juga sebuah idealisme. Apapun itulah.

Ini tentang film Indonesia. Saya kepikiran untuk menulis tentang film Indonesia ini setelah melihat film-film bioskop yang ditayangkan selama liburan kemarin di TV-TV swasta dan sinetron-sinetron yang selalu tayang setiap hari. Juga setelah melihat suatu artikel di Kompas, sayang lupa tanggalnya.

Poin pertama, mengenai tema. Seperti artikel di Kompasi mencatat, dari sebuah survey tampak bahwa sebagian besar film Indonesia adalah bertema remaja/cinta dan horor. Sebenarnya dua tema ini tak bermasalah. Yang bermasalah ketika hampir semua film mengambil tema tersebut. Kesan yang muncul adalah insan film Indonesia tak kreatif dan hanya mengejar pasar (karena kedua tema tersebut sedang tren). Saya jadi teringat sebuah diskusi ringan dengan ayah saya. Bahwa akhirnya -menurut ayah saya- yang penting produk kita laku terjual. Memang ini ada benarnya tapi saya tak sepenuhnya setuju. Kalau kita hanya mengejar pasar terus, kapankan film Indonesia benar-benar bisa maju dan menembus penghargaan Internasional yang bergengsi?

Bila kita melihat penghargaan-penghargaan Internasional, berbagai film dari berbagai genre berhasil memenangkan penghargaan. Penghargaan tersebut tak hanya berdasar angka penjualan tiket di bioskop, tetapi juga kualitas berbagai varian dalam film tersebut. Memang penghargaan  film di Indonesia juga telah mencoba memasuki suatu standar penilaian yang berkualitas. Tapi akhirnya tetap menjemukan karena film yang menang biasanya hanya yang begitu-begitu saja. Cinta. Remaja. Komedi. Horor. Sudah.

Pemecahan masalah ini menurut saya ada berbagai jalan. Ide yang baru saya temukan adalah mengubah tema sedikit demi sedikit. Misalnya dalam sebuah film percintaan, diberikan sub tema. Misalnya masalah psikologis, action (meski ini kurang ideal menengok keterbatasan teknis), dan budaya. Tema seperti ini memang sudah mulai diangkat oleh beberapa film seperti Pesan dari Surga dan Mengejar Mas-Mas. Namun pengolahannya belum maksimal. Dan lagi selama belum banyak produser film yang sadar, maka tema utama tak akan bergeser dan sub tema tetap akan jadi sub tema. Jadi harus ada komitmen dalam semua (atau setidaknya sebagian besar) produsen film untuk membuat film dengan tema (atau sub tema) yang lebih bervariasi dan berkualitas. Ada konten. Edukatif. Ada sesuatu yang bisa diambil. Tak usah tema yang terlalu berat memang, yang penting tetap ada sesuatu yang bisa dipelajari. Dalam hal ini, film (dalam konteks film bioskop) memang sudah mengalami peningkatan. Sementara sinetron masih terpuruk dalam rating dan tema film yang itu-itu saja. Cinta. Komedi. Remaja.

Poin kedua adalah setting. Lebih luasnya lagi backwork. Maksudnya elemen-elemen dasar film itu. Misalnya, setting lokasi, latar belakang sosial, latar belakang budaya. Selama ini, latar belakang film HAMPIR SELALU di Jakarta (kalau tidak ya di Cibubur, setting sejuta sinetron). Tokoh utamanya yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik (meski sebagian dari mereka kemampuan aktingnya hampir terkualifikasi untuk ditertawakan). Dan profesi tokoh utamanya pun klise:  pelajar dan orang kantoran. Alasannya mudah saja: biaya teknis. Prinsip Ekonomi. Gimme a Break! Intinya insan perfilman Indonesia tak mau repot demi minimumnya biaya produksi dan maksimumnya pendapatan. Lebih mudah memasang artis-artis yang menarik untuk menjual daripada membuat setting yang kuat dan terkonsep.

Penyakit ini semakin parah di Sinetron-sinetron Indonesia dengan settingnya yang klise. Sungguh membosankan berganti-ganti channel TV dan menemui sinetron-sinetron yang hampir seragam. Karakterisasinya minim. Si Baik dan Si Jahat. Si Kaya dan Si Miskin. Anak Tiri dan Ibu Tiri. Olahraganya hanya Basket dan Sepak Bola. Pelajar, Orang Kantoran, Pak Guru, Sopir Bajaj, Ibu Rumah Tangga, Pembantu Rumah Tangga, Artis, Pak Dokter, Suster, Pak Polisi, Pak Haji, dan tak lupa Tukang Sayur yang jadi figuran. Memang di Indonesia sudah tak ada lagi Sinden muda? Atau petani singkong? Atau seniman pematung? Atau nelayan? Atau teknisi mesin? Atau pemain badminton (yang dulu kita banggakan itu)? Kalau kita mau brainstorming sedikit saja sebenarnya masih banyak karakter yang bisa dieksplor dan bisa menarik kalau diolah dengan baik.

Padahal ada prinsip lain (yang jadi favorit saya), yaitu No pain, no gain. Pantaskah kita mengharapkan pohon yang besar bila yang kita tanam hanyalah kecambah yang dirawat asal-asalan tanpa perawatan, pupuk dan pengairan yang benar? Solusi dalam kasus ini sebenarnya sangat luas. Misalnya saja, meskipun temanya tetap cinta remaja lalala, namun akan lebih menarik bila konteksnya unik, seperti dengan latar lereng gunung Merapi ketika percintaan tercampur dengan pilunya bencana. Atau sang kekasih ternyata memiliki kelainan mental dan pasangannya berjuang untuk membongkar masa lalu dan mengobati belahan jiwanya tersebut. Atau kegagahan seorang nelayan muda dalam mengarungi bahari (sekalian membangkitkan kembali kecintaan dan kebanggaan terhadap negeri maritim ini, ceunah…) untuk mengumpulkan uang demi melamar kekasihnya, sementara kekasihnya sebentar lagi harus pergi ke kota lain untuk dijodohkan bila ia tak segera memiliki kekasih yang bisa menjamin hidupnya.  Atau perjuangan seorang pemain badminton amatiran untuk menjadi seorang pemain badminton pro (da Indonesia katanya jago badminton).

Tentu saja hal-hal seperti ini membutuhkan tenaga dan biaya ekstra. Harus ada riset, perencanaan yang kuat, dan lain sebagainya. Bahkan kasting yang lebih ketat dan pelatihan ekstra bagi para aktor dan aktrisnya. Namun saya yakin, hasilnya tak akan sia-sia. Lihat saja film-film Garin, misalnya. Dengan konsep psikologis dan kebudayaan yang kuat. Keren pisan lah!!

Poin terakhir adalah visual. Film Indonesia menggunakan pengambilan gambar yang sangat monoton dan menjemukan. Close-up terus-menerus. Yang dipertunjukkan saat dialog hanyalah muka terus dan diambil dari depan. Yang diandalkan film Indonesia hanyalah tampang para artis dan dialog secara verbal. Makeup digunakan secara berlebihan (sampai adegan tidur pun masih penuh dandanan). Terlalu banyak adegan ngobrol. Dosen saya pernah bilang hanya Garin yang biasanya berani memainkan gesture dan aspek-aspek visual.

Bila kita mau melihat dorama Jepang misalnya atau film seri Amerika, mau tak mau kita harus mengakui mereka berani memainkan angle dan gesture. Ini bukan masalah mencintai produk impor. Ini masalah kualitas. Sudah selayaknya kita berani mengakui kehebatan orang lain dan mau belajar dari mereka tanpa plagiat. Film luar negeri tak cuma modal tampang keren saja. Bahasa tubuh dan sudut pengambilan gambar yang unik mampu memainkan mood. Lihat horor Jepang. Minim efek spesial. Hanya setting, gesture, dan suara saja bisa membangun suasana yang benar-benar mencekam. Tak seperti horor murahan Indonesia yang sok canggih dengan berbagai efek tapi akhirnya hancur berat. Atau dorama Jepang. Gambar di ambil dari sudut atas ruangan, dari balik kaca, dari sudut pandang semut sehingga benar-benar membangun mood dan aspek visual yang bagus.

Dalam hal ini, solusinya adalah insan perfilman Indonesia harus berani bereksperimen dan mau banyak belajar. Harus mengalami trial and error untuk mencapai suatu kualitas visual yang baik. Mungkin pada awalnya akan terlihat aneh dan bahkan mungkin jelek. Tetapi setelah tahap itu dilalui, kita bisa mencapai suatu kualitas yang baik. Selain itu banyak aspek visual yang bisa diolah dari berbagai contoh setting yang saya disebutkan di atas. Seperti keindahan bahari Indonesia (yang tak cuma diekspos di acara-acara dokumenter), pertandingan badminton yang seru (menggantikan adegan sepak bola dan basket yang sudah terlalu sering diekspos), atau mungkin adegan pelajaran tari Bali oleh seorang pemudi Bali. Sungguh banyak potensi visual yang sangat berjiwa Indonesia yang masih bisa diekspos. Tak menggunakan mereka sama halnya ketika kita berusaha memotong daging ayam kurus untuk memasak dengan tusuk gigi sementara kita sebenarnya punya seratus ayam gemuk dan gergaji mesin.

Yah itulah. Sekadar uneg-uneg. Kalau boleh, saya bilang ini adalah proses belajar dan berpikir saya sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual dalam menanggapi kasus aktual yang berupa produk visual di Indonesia (cengos pisan, hehehehe). Tulisan ini tak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun. Hanya sekedar buah pikiran dan saran. Yang jelas saya hanya bisa berharap akan kemajuan perfilman Indonesia. Thanks a bunch for reading to this point.

An adjective called ‘bingung’

December 3rd, 2007 by reidge

hegh

minggu kedua uas

dan saia makin bingung. sebenarnya saia ini berskill ato tidak?? teman2 di deviantart bilang kualitas karya saia meningkat dibanding waktu TPB (di bandung-red) dulu. tapi nyatanya nilai2 saya masih parah… uas tipografi 60…… hiks hiks, nilai tipo terancam C. mau bilang apa saia ke orang tua…. eh, sudah bilang ding :P

hegh.

ngomong2 soal nilai. saia baru tau kecengan saya ternyata cum laude. sial. kenapa 3 kasus belakangan ini saia selalu ngeceng cewek yang terlalu hi-quality??? IP segede gaban dan nice characters. (visual juga. hehe) agh. wat a pain T_T. untung (ato engga??) masih sekedar ngeceng.

well, i think i should move onward and forward. diiringi salto Nyi Pelet yang menggelinjang di tengah kegelisahan senja dan temaram murka surga (naooon deui…)

Valgran

November 26th, 2007 by reidge

Valgran adalah nama yang saya ciptakan waktu SMP, untuk mengiringi  nama Reidge yang menjadi ‘alter ego’ saya. Nama ini pada awalnya tak punya arti, hanya dibikin untuk kepentingan estetis. Seiring berjalannya waktu, saya tertarik untuk memberi arti pada nama ini. Akhirnya saya memutuskan untuk memberi arti Pejalan Jauh (Farwalker). Dasarnya adalah karena saya orang yang suka jalan. Saya dapat berjalan 1-2 km tanpa mengeluh kelelahan. Saya terbiasa berangkat sekolah dan kuliah dengan berjalan kaki (meski sekarang digantikan motor dan bis karena alasan jarak dan waktu). Selain itu, nama ini juga sesuai dengan saya yang sudah mencoba tinggal dan belajar di 4 kota (Muntilan-Jogja-Bandung-Karawaci)

Secara kebetulan, kata Valgran mirip dengan kata Vagrant, yang dalam bahasa Inggris berarti pengembara yang tak punya rumah. Walaupun tak sama persis, kedua kata ini memiliki kesamaan sifat sebagai orang yang berjalan jauh.

Dan pagi ini kata tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Jadi ceritanya saya bangun kesiangan, jam 08.00. Padahal jam segitu UAS Sejarah dan Apresiasi Desain harus sudah dikumpul (meski saya tahu mungkin ada interval penerimaan sekitar 1-2 jam). Tapi karena tugas itu belum dijilid, agak paniklah saya. Saya pun langsung menelepon teman-teman yang ternyata juga baru menjilid tugas mereka. Nah, saya pun segera bersiap-siap berangkat.

Masalahnya, bis di Karawaci cuma lewat sekali. Dan setelah lewat di depan kos saya pun masih muter dikit sebelum berangkat ke arah UPH. Nah, waktu saya keluar kos, jamnya bener-bener nanggung. Males kalo cuma nunggu bengong. Mau ngojek pun malas karena duit saya gedean (Rp 50.000,00). Makanya saya jalan dulu dengan asumsi di setengah jalan ke UPH saya akan disusul bis itu.

Lalu dengan gagahnya saya jalan kaki sekalian olahraga. Dan setelah berjalan kira-kira 30 menit, si bis baru berhasil nyusul saya (karena dia muter dulu dan saya langsung jalan ke arah UPH). Itupun saya sudah mencapai kira-kira 3/4 jalan ke UPH. Dan sodara-sodara, ketika bisnya saya hentikan…… JRENG!!! Dia ga ngeliat saya dan melaju terus meluncur ke masa depan tanpa dosa noda dan cela.

YAH!!! Terpaksa jalan menghabiskan 1/4 jarak ke kampus. Dan akhirnya sodara-
sodara!!! Saya menghabiskan 40 menit dalam hidup saya untuk jalan ke UPH dari kos pagi ini dengan menempuh jarak sepanjang kira-kira 3-4 kilometer dengan keadaan berkeringat dan belum menjilid tugas!!!

Untunglah ketika saya sampai, penerimaan tugas belum ditutup. Huff…. kapok deh jadi Valgran kalo harus berurusan dengan deadline kayak gini lagi T_T